Sejarah Boki Nukila

Garasi Genta Oase

Suba se salam malape tabea

Sekilas kisah Boki Rainha Nukila.

Boki Maharani, Rainha atau Nukila, sosok perempuan perkasa pertama di paruh awal abad ke 16, yang dimiliki Tidore, Ternate dan jazirah Moloku Kie Raha (Maluku- Maluku Utara), bahkan perempuan perkasa pertama di seantero Nusantara. Dia putri Almansyur, Sultan Tidore yang menikah dengan Sultan Ternate Bayanullah.

Ketika Jou Sultan Bayanullah wafat pada 1522, dan kedua putra mereka Hidayat dan Abuhayat masih di bawah umur, permaisuri atau ibusuri Boki Nukila dipercayakan sebagai Mangkubumi, kalangan tertentu mengidentikkannya dengan sultanah (Nyai Cili Boki Raja), didamping oleh Taruwesse, adik Bayanullah, yang juga berarti adik iparnya. Terdapat sumber menyebutkan Taruwese saat itu "Jogugu" (semacam Perdana Menteri).

Ternate kurun 1522-1535 (kurang lebih 13 tahun), dalam periode pelik dan krusial. Nukila yang bertanggungjawab atas negerinya, terjepit di antara ambisi Portugis di bawah pimpinan De Brito yang aktif bersiasat melemahkan wibawa dan pengaruh Nukila atas kesultanan Ternate. Sebaliknya memberi angin segar kepada Taruwese, yang disebutnya lebih tepat mengendalikan otoritas kesultanan, atau bahkan menjadi sultan. Segala intrik Portugis berujung tragis, sultan Deyalo dan Boheyat wafat mengenaskan. Taruwese pun bernasib sama.

Dalam kondisi demikian, pada 1530 Rainha menggalang sekaligus memimpin perlawanan kepada Portugis. Upayanya itu mendapat dukungan dari bobato dan rakyat.

Pada akhirnya Portugis menyusun siasat baru, dan pada 1535, Boki Raja, Patisarangi, dan Tabaridji ditahan dan diasingkan oleh Portugis ke Goa, India.

Sumber-sumber sejarah relatif terbatas mencatat kisah dan perannya. Selain itu terdapat perbedaan ulasan spirit, posisi dan perjuangan Boki Nukila. Tapi dari sumber-sumber terbatas itu implisit mengungkapkan Boki Nukila adalah perempuan perkasa pertama di Nusantara yang memimpin perlawanan rakyat terhadap kolonialisme/eksploitasi bangsa Eropa atas negerinya.

Nukila menjadi aktor yang relatif memengaruhi fase menentukan eksitensi Kesultanan Ternate di paroh awal abad ke-16. Spirit perjuangannya, agaknya juga menginspirasi Sultan Khairun, dan kemudian Sultan Baabullah.

Boki Nukila menggalang dan memimpin perlawanan imperialisme Eropa, lebih 2 abad, sebelum eranya "pahlawan perempuan Indonesia" seperti Martha Christina Tiahahu (Maluku, 1800–1818), Cut Nyak Dhien (Aceh, 1848–1908), Cut Meutia (Aceh, 1870 – 1910), R.A. Kartini (Jepara, 1879–1904), Dewi Sartika (1884–1947), dan Maria Walanda Maramis (Sulawesi Utara, 1872-1924),

Sio e..., Nukila memang bukan Kartini. Dia tak pintar menulis surat, atau merangkai kata indah dalam korespondensi yang mengesankan, apalagi merangkai kalimat mashur seperti yang ditulis Kartini; “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Tetapi dia menyulut terang yang nyata, bukan sekadar kata-kata, agar gelap tak segera merudung masyarakat Ternate akibat esksploitasi Portugis.

Sayangnya halaman-halaman buku sejarah Indonesia agaknya terlalu terbatas mencantum-ulas peran heroik Boki Nukila, perempuan Nusantara pertama yang mengobarkan perlawanan terhadap kolonialisme.
  




Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sejarah Boki Nukila"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Bijak.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel