Pimpinan Perang Kapita Labolontio

Kapita Labolontio

Kapita Laut Labontio

Dari Tobelo seorang pemimpin perang yang hidup di masa pemerintahan Sultan Babullah Datu Syah (1570-1583) yang diutus oleh kesultanan Ternate untuk menyebarkan pengaruh dan ajaran Islam diwilayah timur Nusantara.
Sejarah tentang ekpedisi Labolontio dibawah perintah Sultan Babullah Datu Syah (1570-1583), sangat sedikit sumber literasi tertulis yang bisa dipakai sebagai rujukkan untuk menjelaskan perang Labolontio pada penghujung abad ke-15.
Para penulis buku Sejarah tentang Maluku Utara seperti Bpk M. Adnan Amal dalam Bukunya; Kepulaun rempah-rempah: Perjalanan sejarah Maluku Utara 1250-1950 dan Bukunya Tahun-tahun yang menentukan: Babullah Datu Syah menamatkan kehadiran Portugis di Maluku.
Kedua buku M. Adnan Amal, tidak ditemukan penjelasan tentang Kapita Labolontio ini dibawah pemerintahan Babullah ketika melakukan eskpedisi dibagian timur Nusantara.
Bpk M. Adnan Amal dalam kedua bukunya hanya menulis tentang seorang Kapita dari Sula bernama Kapalaya pada tahun 1580 dikirim oleh Sultan Babullah melakukan ekspedisi disepanjang pantai timur Sulawesi yaitu Banggai, Tobungku, Tiboro, Pangasain, yang semuanya dapat dianeksasinya dengan mulus. Pasukan yang di pimpin Kapalaya yaitu pasukan gabungan Ternate-Sula terdiri dari lima juanga besar. Akan tetapi, Kapalaya menemui perlawanan sengit di Buton. Bahkan, setelah Buton berhasil ditaklukkan, perlawanan sporadis masih terus berlansung (R. Hl. 86; T. Hl. 29).
Penelusuran leterasi tertulis yang bisa dijadikan rujukkan tentang Labolontio bisa didapat dari penulis sejarah diluar Maluku Utara seperti Bpk. Susanto Zuhudi dalam bukunya; Sejarah Buton yang terabaikan Labu Rope Labu Wana.
Bpk. Susanto Zuhudi tidak terlalu spesifik mengunkap siapa Labolontio beliau hanya menjelaskan sedikit tentang Labolontio dimana tentang dua versi lokal masukknya Islam Ke Buton. Pertama Islam masuk di Buton kira-kira tahun 1540. Tradisi lokal menyebut bahwa pembawa Islam ke Buton ialah Syeikh Abdul Wahid, putra Syeikh Sulaiman keturunan Arab yang beristri putri Sultan Johor.
Sekembali dari Ternate melalui Adonara menuju Johar, Syeikh Abdul Wahid berpapasan dengan gurunya Imam Pasai yang bernama Ahmad bin Qois Al Aidrus di perairan Flores (dekat pulau Batuatas). Berbeloklah perahu yang ditumpangi Syeikh Abdul Wahid ke Utara dan berlabuh di Burangasi, di Rampea bagian selatan pulau Buton. Kehadirannya menimbulkan kecurigaan penduduk sekitar pantai yang selalu bersiaga menghadapi segala kemungkinan datangnya pasukan Labolontio pemimpin bajak laut dari Tobelo. Untuk sementara waktu mereka tidak diperbolehkan mendarat. Versi kedua mengenai masuknya Islam ke Buton adalah pada tahun 1580 ketika Sultan Babullah dari Ternate memperluas kekuasaanya (Hl.187-188).
Begitu pula dalam bukunya Bpk. Abd Rahman Hamid berjudul; Sejarah Maritim Indonesia. Sedikit mengulas tentang Labolontio, sepak terjang orang Tobelo sesunguhnya sudah lama dikenal dalam masyarakat Buton. Sebelum menjadi Sultan Buton pertama, Murhum (memerintah: 1491-1537), terlebih dahulu melakukan pemberantasan bajak laut Tobelo di Poleang, Muna, dan Buton. Pemimpin bajak laut yang paling terkenal di Buton adalah La Bolontio, yang dikisahkan hanya bermata satu. Bersama pasukannya, La Bolontio melakukan aksinya di kampung Bonena Tobungku. Akibat tindakan itu, masyarakat menjadi resah. Karena itulah, Murhum mendapat tugas dari Raja Mulae, yang saat itu menjabat sebagai Raja Buton kelima. Dia berhasil menumpas aktivitas komplotan itu. Pemimpinnya sendiri berhasil ditawan dan dihukum mati. Singkatnya, sepak terjang Murhum itu mengantarnya ke kursi kekuasaan, sebagai menjadi raja terakhir dan sultan pertama Buton (Zahri 1977; 47-48). Sejak itulah, citera orang Tobelo sangat buruk. Mereka disamakan dengan bajak laut (Hl.213-214).
Labolontio adalah seorang Kapten Laksamana Laut dari Kesultanan Ternate yang berasal dari Tobelo (halmahera) yang masih merupakan daerah atau wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate. Labolontio diberikan amanat oleh Sultan Babullah Datu Syah (1570-1583), untuk menyebarkan pengaruh dan ajaran Islam dikawasan timur Nusantara termasuk pulau Buton, pulau Muna, Bima, pulau Selayar dan Makassar yang pada saat itu masih kebanyakan kerejaan yang menganut kepercayaan Hindu-Budha.
Disinyalir bahwa kedatangan Labolontio ke pulau Buton melalui jalur utara yang jauh lebih aman dari pada harus melewati jalur selatan (laut Banda dan laut Flores) dibagian timur atau tenggara pulau Buton yang terkenal ganas dengan badai ombaknya.
Orang-orang Bugis-Makassar mengenalnya nama Labolontio dengan sebutan "La Bolong Tiong" artinya Si Hitam Pekat. Labolontio adalah kepala (pemimpin) bajak laut yang berasal dari Tobelo yang beroperasi hampir diseluruh wilayah laut Nusantara dibagian timur, termasuk di perairan Buton. Labolontio dikenal sebagai orang yang sakti, berbadan tinggi, berambut pajang sebahu, kekar dan bermata sati (salah satu matanya rusak atau buta). Dalam sejarah Buton disebutkan bahwa kelompok bajak laut yang dipimpin oleh Labolontio telah dan sangat mengganggu stabilitas keamanan masyarakat di Kerajaan Buton (La Oba. Muna dalam Lintasan Sejarah (Prasejarah-Era Reformasi)(2005: 35-36).
Amanat yang diberikan kepada Labolontio tersebut dijadikan sebagai misi dan merupakan tugas utamanya yang sangat penting yang pernah diberikan oleh Kesultanan Ternate untuk memperluas sejauh munking wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate dengan cara pengislaman pada kerajaan-kerajaan yang belum memeluk agama Islam. Ketika wilayah bagian utara, tengah dan timur Nusantara telah mereka taklukkan, sasaran misi berikutnya yang harus dituju adalah sebuah kerajaan yang terletak di kaki pulau besar Sulawesi yang telah diincar-incar sebelumnya yakni Kerajaan Buton.
Kapten Laksamana Laut Labolontio memimpin pasukannya dibawah perintah Sultan Ternate Babullah Datu Syah (1570-1583), untuk memperluas wilayah kekuasaannya dan juga dalam rangka menyebarkan pengaruh dan ajaran agama Islam dikawasan timur Nusantara. Kedatangan Armada Labolontio kepulau Buton berlansung pada saat Kerajaan Buton masih dipimpin oleh Raja ke-5 Raja La Ngujuraja dengan gelar Raja Mulae yang dijuluki dengan nama Sangia Yi Gola (keramat yang manis) samapai pada tahun 1491.
Disini terlihat ada perbedaan interval waktu yang sangat jauh antara masa pemerintahan Raja Mulae dengan masa pemerintahan Sultan Babullah Datuh Syah yang terpaut 90 tahun. Namun jika di konversi ke tahun masa pemerintahan Raja Mulae meka diperoleh kemungkinan kesamaan waktu antara Raja Buton dengan Sultan Ternate pada masa Pemerintahan Sultan Ternate Zainal Abidin (1486-1500) (Rusman Bahar. 2010. Konstelasi Sejarah Buton: Masa Lalu dan Masalahnya. Bau-bau: Bumi Buton: 2).
Dimata masyarakat Buton, Labolontio dikenal sebagai seorang perompak bajak laut bermata satu yang sangat terkenal dengan sosoknya yang bengis dan menakutkan bagi siapa saja yang berpapasan langsung dengannya. Labolontio mengisi perutnya dengan hasil-hasil bajakan dan rampokkannya.
Setelah Labolontio berhasil mencapai dan menguasai salah satu daerah dipesisir bagian utara pulau Buton, maka daerah tersebut ia pergunakan sebagai tempat peristrahatan bersama rombongannya dan membangun sebuah markas perlindungan dari bencana badai laut. Hingga sampai saat ini daerah itu diabadikan namanya dengan sebutan Labuan Tobelo. Labuan Tobelo adalah salah satu tempat berlabuhnya orang-orang yang berasal dari Tobelo.
Labolontio merupakan seorang Laksamana Kapten Laut Kesultanan Ternate yang memimpin pasukan laut Kesultanan Ternate. Sebagai balasan atas kegagalan serangan Tobelo pertama kali yang dilakukan terhadap Kerajaan Buton pada masa pemerintahan Raja Buton ke IV Raja Tua Rade, Labolontio di utus untuk melakukan serangan di kampung Bonena Tobungku (sekarang Boneatiro). Labolontio akhirnya mematahkan perlawanan rakyat Bonena Tobungku yang kemudian menundukkan Dan menguasai Kampung Bonena Tobungku tersebut.
Secara lansung masyarakat Kerajaan Kulisusu yang masih merupakan salah satu daerah barata dari Kerajaan Buton pada saat itu merasakan imbasnya dengan adanya berbagai macam ancaman dan gangguan yang timbul akibat ulah Labolontio tersebut. Barata merupakan suatu daerah kecil yang dijadikan sebagai daerah pertahanan dan keamanan (Arsip Daerah; Sejarah Masa Kerajaan/Kesultanan Buton 2006: 52).
Sebelum melakukan serangan ke Kerajaan Buton, Labolontio bersama pasukannya terlebih dahulu menaklukkan daerah Kendari dan Wawonii serta menguasai perairan mulai dari teluk kendari, selat Wawonii dan selat Buton. Labolontio merompak dan membajak setiap kapal yang melewati atau melintasi selat Buton. Pada waktu kerajaan Buton masih dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Raja La Ngujuraja dengan Julukan Sangia Yi Gola.
Sebelum menghadapi serangan Labolontio, Raja La Ngujuraja beserta para Staf Sara Pangka (eksekutif), Sara Gau (legislatif), Sara Bitara (yudikatif) di Kerajaan Buton melakukan musyawarah terlebih dahulu. Hasil musyawarah itu memutuskan untuk menghadang dan menghadapi Labolontio dengan pasukannya di daerah pesisir Bone Tobungku (sekarang Kecamatan Kapuntori). Kerajaan Buton melakukan serangan terhadap perompak bajak laut Labolontio bersama pasukannya, pasukan Kerajaan Buton dibantu oleh Tiga (3) orang jawara yakni:
1. Opu Manjawari yang berasal dari pulau Selayar
2. Betoambari merupakan Raja dari Kerajaan Wajo yang menguasai daerah Boepinang sampai dengan daerah Sua-Sua
3. La Kilaponto atau Laki La Putra yang berasal dari Kerajaan Muna.
Dalam pertempuran tersebut Labolontio berhasil melumpuhkan dua orang sekaligus dari para kesatria yang ikut dalam sayembara yakni Opu Manjawari dan Raja Betoambari. Setelah melihat keadaan ini, La Kilapontoh lansung bergerak maju untuk melawan Labolontio dan berhasil mengalahkannya. Setalah Labolontio tewas terbunuh maka anggota kelompoknya yang masih hidup ditawan, dan sebagian lagi pasukannya yang masih hidup berhasil lolos dan melarikan diri kedaerah-daerah sekitar.
Setelah La Kilaponto membunuh panglima perang Labolontio kemudian La Kilaponto memenggal kepala Labolontio yang akan dipersembahkan kepada Raja La Ngujuraja dan memotong alat vital (kemaluan) Labolontio untuk dijadikan sebagai barang bukti yang akan diperlihatkan kepada Raja Buton Raja Ngujuraja bahwa La Kilaponto telah berhasil membunuh Labolontio dan pasukannya sudah di taklukkan. Kemudian daripada itu La Kilaponto telah di akui oleh Raja La Ngujuraja dan lansung dikawinkan dengan Boroka Malanga. Akhirnya kepala Labolontio diserahkan kepada Siompu untuk disimpan dalam sebuah gua yang berada di atas batu dikampung Lontoi. Saat pertempuran di Bonena Tobungku, sangat banyak pasukan Labolontio yang terbunuh, sehingga pasir yang awalnya berwarna putih berubah merah karena darah yang tertumpah akibat pertempuran yang dilakukan antara Kerajaan Buton melawan Kapten Laksamana Laut Labolontio bersama pasukan yang dipimpinnya. Namun pasukan Labolontio yang masih hidup, lari dan meloloskan diri di daerah-daerah sekitar hingga saat ini sudah tidak diketahui lagi keberadaan mereka.
Setelah kabar kematian Labolontio didengar oleh Sultan Babullah dan Rakyat Ternate kedukaan yang sangat mendalaman diraskan atas kematian tetsebut saat itu Sultan Babullah mengancam Buton hingga Buton takluk dan menjadi vasal Kesultanan Ternate (Djarudju 2005: 140-141).
Menurut Saya Labolontio di utus untuk melakukan penyebaran di timur Nusantara diperkirakan dari tahun 1577-1579 karna dilihat ditahun 1576 Sultan Babullah mengutus Kapita Robohongi dari klan Tomagola ke Hoamoal, Buru, Manipa, Ambalau, Kelang, dan Buano untuk menjadikan daerah ini tertutup bagi kegiatan bisnis Portugis di Ambon (Amal 2006:86). Sedangka pada tahun 1580 Sultan Babullah Mengirim Kapita Sula bernama Kapalaya untuk menaklukkan Pantai Sulawesi bagian timur Banggai, Tobungku,Tiboro, dan Pengasaian ketika penaklukkan diwilayah Buton Sultan Bullah juga berada disana ketika penaklukkan tersebut (Amal 2006:87).
Jadi saya bisa berkesimpulan bahwa Labolontio lebih duluan dikirim ke Buton sebelum Kapita Kapalaya, hingga kabar tentang terbunuhnya Labolontio membuat murka Sultan Babullah lalu ia dan Armada perangnya yang dipimpin oleh Kapalaya menuju Sulawesi Tenggara dan menaklukan Buton hingga menjadi vasal kesultanan Ternate.
Sekian ulasan sejarah tentang Kapita Labolontio di atas baik yang saya kutip dari berbagai sumber buku dan Internet semoga menambah khanzana pengetahuan serta bermanfaat terhadap pembaca untuk lebih mengenal sejarah Maluku Utara.
Meskipun ulasan sejarah di atas tidak sempurna dan masih banyak kekurangan yang perlu saya perbaiki. Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan saya tentang disiplin ilmu sejarah serta referensi yang didapat. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat saya harapkan sebagai bahan evaluasi untuk kedepannya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pimpinan Perang Kapita Labolontio"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Bijak.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel