Cerita Kpercayaan Roh Leluhur

Kepercayaan Terhadap Roh - ROh leluhur 

kepercayaan tradisional masyarakat O hongana ma nyawa ( Halmahera Utara )

Manusia terdiri dari tiga bagian, yakni tubuh jasmani (o roehe), roh (o gikiri) dan jiwa atau semangat (o gurumini). Ketika seseorang meninggal, maka roh (o gikiri) dan jiwa (o gurumini) akan meninggalkan tubuh (o roehe) namun diyakini tetap hidup dan berada dilingkungan sekitar kerabat (Djurubasa 2000).

Kepercayaan tradisional masyarakat berfokus pada kehadiran roh-roh leluhur dan roh-roh lainnya. Meskipun masyarakat o hongana ma nyawa di Desa Wangongira telah memeluk agama, namun mereka masih meyakini keberadaan dan pengaruh dari roh-roh tersebut terhadap kehidupan sehari-hari. Beberapa aspek penting terkait kepercayaan tradisional masyarakat yakni: Gikiri Moi Gikiri berarti ’roh’ dan moi berarti ’satu-satunya’ atau ’yang utama’.

Masyarakat percaya bahwa seluruh makhluk hidup bahkan tanah dan sungai memiliki gikiri. Gikiri Moi menunjukkan bahwa Dia (Gikiri Moi) melebihi gikiri-gikiri yang lain atau "Yang Mahakuasa" pencipta dan penguasa alam semesta.

GOMANGA

Gomanga merupakan roh para leluhur yang telah meninggal dunia namun diyakini tetap berada disekitar keturunannya. Ia dapat menjadi pelindung, namun jika tidak dipelihara dengan baik bisa menjadi musuh dan menimbulkan masalah bagi ketururunannya. Gomanga bersikap baik (o gomanga ma oa) jika selalu diberi persembahan (sesajian), sebaliknya jika ritual tidak dilaksanakan dengan baik maka gomanga dapat bertindak menjadi musuh yang menakutkan (o gomanga ma doru).

GOMATERE

Gomatere merupakan seorang dukun yang diyakini bisa berkomunikasi langsung dengan roh-roh leluhur dan menjadi perantara antara ”alam manusia” dengan ”alam gaib”. Secara formal sebutan gomatere saat ini telah dihilangkan yang dipengaruhi oleh masuknya agama, namun demikian fungsinya masih dijalankan oleh orang-orang tertentu.

Perspektif masyarakat O hongana ma nyawa dalam memaknai hubungan mereka dengan lingkungan, terutama dengan hutan, diekspresikan melalui ungkapan:

“manga nyawa de manga roehe hagoraka de hohuba, ngomi mia roehe de mia nyawa imaki kuoioka de ma fongana nako mia fongana mia paliara, kaimatero de mia gomanamia paliara”.

Ungkapan tersebut memiliki makna bahwa jiwa dan perasaan mereka senantiasa menyatu dengan hutan. Memelihara hutan berarti juga menghormati roh para leluhur. Hutan diumpamakan seperti ibu yang menjaga dan memberi makan (WBN2010).
_____________________________________________

Ket. foto: Seorang pria tobelo (o'hongana/togutil) kerasukan dan ditenangkan oleh beberapa temannya, Halmahera utara 1980.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerita Kpercayaan Roh Leluhur"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Bijak.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel