Cakalele Galela

Sejarah Cakalele Galela

Penyebutan Cakalele dalam bahasa Galela disebut O'soda orang Galela memaknai tarian ini sebagai tarian mengacam dalam arti memerangi (do'soda).
Sejak masa terbentuknya masyarakat Galela disekitar Telaga E'la yang berada di pedalaman, suku ini bernama Tagute (alifuru), yang menganut animisme (sowamoigiowo), yang para lelakinya hanya mengenakan cawat dari kulit kayu dan para wanitanya bertelanjang dada. 

Cakalele sudah menjadi tradisi masyarakat di wilayah ini (kawasa).

Di Galela ada tiga tipe tari Cakalele:
  1. Cakalele Dai (perang) biasanya di tarikan pada ekspedisi Canga pada masa lampau namun sekarang juga sering di pakai pada acara-acara tertentu.
  2. Cakalele Adati (adat) biasanya di tarikan pada sebuah acara adat seperti pernikahan dan pemujaan Roh Leluhur (dilikini) dan Pemujaan Seri (Tontem).
  3. Cakalele Mabunga (seni) biasanya di tarikan pada sebuah acara penyambutan kepala daerah yang berkunjung ke Galela serta pementasan panggung.

Platenkamp J.D.M dalam buku; Tobelo,Galela Ideas and Vulues of a North Moluccan Society, Leinden (1988:174). Mencatat bahwa misionaris Belanda, Van Baarda yang berada di Galela menulis dalam catatannya nama tarian perang ini di Galela disebutkan sebagai O'Soda (bahasa lokal).
Pada akhir abad ke-17 dan abad ke-20, ketika para pria Galela melakukan Pembajakan dilaut (canga) mereka menari Cakalele sebelum ekspedesi dimulai. Itu bermakna agar membuat para pria dalam perjalanan suasana hati agar tetap tenang dan untuk menunjukkan ketangkasan, kecepatan dan kekuatan mereka.
Para lelaki Galela menari diiringi Gosoma lamo (tifa besar) dan Lipa (gong). Para penari melompat dari satu kaki ke kaki lain, kadang-kadang jarak jauh. Mereka menari dengan parang (Taito) dan salawako (perisai), serta Tombak (Kamanu) berpasangan ( C.F.H. Campen, 1883:181-182).
Ketika Upacara-upacara pelepasan para Bajak Laut (canga) dilakukan disebuah rumah pemujaan, seluruh angota keluarga harus hadir dan memberi dukungan kepada angota ekspedisi. Dalam upacara " O Horu " pelepasan para Bajak Laut (canga) ini para Gomahati (seorang tetua) mengadakan upacara pemangilan Roh Lelehur (Dilikini) yang akan melindungi para Bajak Laut ini. Arwah Dilikini yang dipanggil itu kemudian dimasukkan dalam sebuah keranjang yang selanjutnya akan dibawa selama ekspedisi dan diperlakukan sebagai pelindung atau jimat. Selama ekspedisi itu tidak ada orang yang diperkenankan memasuki rumah pemujaan tersebut setelah rombongan kembali, maka arwah Dilikini itu dilepaskan lagi oleh sang Gomahati.
Teknik-teknik yang digunakan oleh para Bajak Laut (canga)juga sama dengan yang digunakan dalam berperang atau mengayau hal ini bisa dilihat dari cari mereka menarikan Cakalele. Alat-alat terutama terdiri dari Tombak (kamanu) yang terbuat dari sejenis kayu keras (gofasa) ataupun bambu runcing (tutudu), dilengkapi dengan sebuah perisai (Galela; Salawako) serta sebuah pedang dari besi (ta'ito). Cara memusnahkan musuh pada umumnya adalah dengan menikamnya dengan tombak tersebut dan kemudian dipancung dengan parang dan darahnya diminum. Dalam membajak, kesabaran sangat penting serta kemampuan mengintai berjam-jam menjadi sangat asensial. Kemampuan ini berkaitan dengan teknik-teknik menyerang musuh tertentu, yaitu penandakan (raids) yang diawali dengan teriakan Au (darah) oleh sang pemimpin (kapita) yang dijawab serentak oleh anak buahnya dengan kata Iye (minum) (Heuting 1922:203-204; De Clercq: 1890:204-211; Campen 1884:447-449).
Dalam melakukan tari Cakalele pada ekspedisi Canga alat-alat yang dipakai seperti:
  1. Pedang (Galela; ta'ito)
  2. Perisai (Galela; madadatoko)
  3. Tombak (Galela; kamanu)
  4. Panah (Galela; bau)
  5. Beduk besar (Galela; gosoma lamo)
  6. Gong (Galela; Lipa).

Para penari baik kapita (pemimpin) serta prajurit bisa dibedahkan dilihat pada perisai (Salawaku) yang mereka pakai. Ada beberapa tipe salawaku di Galela yang menunjukan kedudukan sosial penggunanya dalam lingkungannya.
Perisai (Salawaku) dalam bahasa Galela disebut:
  1. Ma Dadatoko
  2. Tata ito mafati
  3. Salwake
  4. Saluwaku 
  5. Salawako

Makna Salawaku bagi orang Galela sangat menarik Salawaku dapat dimiliki oleh para Kapita,Kepala suku/desa, Prajurit dan Masyarakat setiap salawaku yang dipakai pun berbeda. Salawaku menunjukan kedudukan sosial serta martabat seseorang dalam masyarakat.
Contohnya:
  1. Kapita mempunyai 9 mata (mutiara/Cangkang kerang) yang melekat di Salawaku.
  2. Kepala Suku/desa mempunyai 8 mata (mutiara/Cangkang kerang),yang melekat di Salawaku.
  3. Prajurit mempunyai 4 mata (mutiara/Cangkang kerang) yang melekat di salawaku.
  4. Masyarakat tidak memiliki Mata (mutiara/Cangkang kerang) dan tidak memeiliki corak.

Perisai (salawaku) pada umumnya memiliki dua Variasi yaitu:
  1. Salawaku punggung Buaya (Galela; Gosoma)
  2. Salawaku punggung Penyu (Galela; Ori).

Perisai ini berbentuk jam pasir yang terbuat dari sepotong kayu. Bagian atas dan bawah lebih lebar dan di tengahnya lebih sempit.
Perisai memiliki bentuk V sedikit, sehingga bagian menonjol di bagian depan di tengah. Bentuk seluruh perisai sedikit melengkung.
Perisai dibagi menjadi empat bagian. Di tengah adalah punggungan tertinggi, yang dimaksudkan untuk mengusir pukulan dengan pedang.
Dengan menerapkan teknik tertentu, senjata lawan dikunci di kayu perisai dan lawan bisa dilucuti. Selain itu, ada juga punggungan di kedua sisi. Itu tidak hanya berfungsi sebagai pertahanan. Sisi tajam dan sudut juga bisa melukai lawan. Karena itu, istilah salawaku bagi orang Galela berarti perlindungan atau tolakan.
Perisai dihitamkan dengan tinta gurita atau jelaga dari kayu (akar-akar pohon) yang terbakar dicampur dengan minyak kelapa atau air tanaman yang sudah dicampur. Selanjutnya dihiasi dengan potongan induk mutiara dan kulit telur (ovulum ovum).
Dengan beberapa spesimen, induk mutiara telah digantikan oleh potongan-potongan porselen. Pada tahun 1896, induk mutiara dari beberapa perisai sudah digantikan oleh pecahan tembikar. Perisai menunjukkan bentuk tubuh dan bahan yang dimasukkan mengacu pada bagian tubuh.
Bagian atas mengacu pada kepala, bagian bawah ke kaki. Arteri beroperasi dalam panjang perisai. Langkan di bagian dalam seperti tulang belakang, dan laring tepat di bawah saling bertukar. Bahan-bahan yang dimasukkan di atas tengah salawako mengacu pada mata dan dikatakan bahwa jumlah itu mengacu pada lawan yang dibunuh oleh leluhur.
Kerang oval besar (guguli) di tengah disebut mata (lako) dan melambangkan kepala musuh yang terbunuh. Dengan ini pengguna perisai berharap untuk menakuti musuh.
Perisai dengan memiliki empat mata disebut lakko iha (empat mata) Perisai yang lebih dari empat mata disebut salawako Mapona. Perisai yang lebih kecil disebut salawako ngopa atau salawako kapita dan hanya bisa dipakai oleh kapita (kepala perang).
Sebuah perisai kecil dipandang sebagai tanda keterampilan, keberanian, dan kekuatan magis yang luar biasa dari petarung itu (kapita).
Mereka juga menggunakannya dalam tarian perang (sodah) di Galela Halmaheira. Panjang perisai, harus lebih pendek dari dua kali lengan yang diregangkan. Alasan untuk ini adalah bahwa jika perisai itu dipegang secara horizontal dengan lengan terentang, itu tidak akan menyentuh dagu. Ini untuk menghindari air mata jatuh di perisai. Keberanian dan kesedihan harus tetap terpisah.
Salawaku bisa menjadi bagian dari hadiah pengantin pria kepada keluarga pengantin wanita. Itu dipakai saat O'sodah, tarian perang.
Pada akhir abad ke-19, Orang Galela yang sudah beragama Islam atau Kristen sudah tidak ada lagi perjalanan (mengembara)yang dilakukan untuk mendapatkan kepala manusia hanya sebagian saja yang masih melakukannya ( Christine Hukom, 1985:136; Albert G. van Zonneveld, 2001:117-118).
Dalam acara adat pernikahan di Galela tari Cakalele selalu di tampilkan dimana tarian ini digunakan untuk menyambut mempelai perempuan, seperti yang digambarkan oleh Antropolog Asal Jerman Quelle der Karte: Spice Islands . The Moluccas 1991.
" Pernikahan adat di Galela para mempelainya memakai kostum tradisional,musik, dan serta tarian ciri khas dari Galela. Kebiasaan pernikahan adat di Galela antara Muslim dan Kresten berbeda. Orang Kresten lebih suka gaya yang lebih modern, sedangkan Muslim lebih Tradisional. Mempelai pria di kawal oleh angota keluarganya kerumah pengantin wanita. Mereka juga membawa hadiah tradisional untuk keluarga pengantin wanita. Mereka diikuti oleh banyak orang, beberapa di antaranya memainkan musik tradisional di sepanjang jalan. Di sini drum minyak tua telah digunakam menjadi alat musik untuk menari Cakalele.
Setelah bagian seremonial selesai dalam acara pernikahan adat, kedua pengantin itu diantar ke kamar yang telah didekorasi oleh anggota keluarga perempuan, dan di sini pengantin pria mencium istri barunya hanya di tangan!
Ketika pasangan muda itu kembali ke rumah mempelai laki-laki, musik terus dimainkan dan tarian Cakalele di tarikan oleh para pemuka adat, Cakalele awalnya adalah tarian perang tetapi saat ini sebagian besar dilakukan untuk menyambut tamu penting. Cakalele dalam pernikahan di Galela berirama lambat menunjukan sikap penghormatan berbedah dengan Cakalele yang di tampilk lan pada acara adat pemujaan iramanya cepat maka di katakan sebagai cakalele perang.
Saya mengutip pengalaman seorang peneliti yang saat itu meniliti tentang tari Cakalele di desa Ngidiho (Galela) 1997-1996, Farsijana A. Risakottage dalam bukunya: Politics, Ritual and Identity in Indonesia A Moluccan History of Religion and Social Conflict (2006 141-146).
Risakottage mengulas Cakalele dengan Metode Oral History (Sejarah lisan) yang ia wawancarai salah seorang Tetua adat bernama Bapak Din;
" Suara teriakan (manyere) dan pemukulan gendang membuat saya menggigil. Suara-suara mendesak dari para penonton merangsang gairah para penari. Mereka melompat dan melompat dengan energi dan ritme. Setiap penari memegang pedang dan perisai kayu. Perisai kayu dihiasi dengan ibu dari kerang mutiara, dibentuk menjadi bentuk mata. Orang Galela menyebutnya sebagai "mata leluhur mereka" Setengah histeris, para penonton juga mulai melompat dan melompat, mengikuti irama musik. Drum berdenyut lebih cepat dan lebih cepat. Rambutku berdiri dan aku merasa ingin meninggalkan tempat itu. Namun panggilan tarian Cakalele terlalu kuat bagi saya untuk pergi dan bersembunyi. Menunjukkan otot-ototnya, seperti pria sejati, penari laki-laki (o soda) itu mengayunkan pedangnya di tangan kanannya dan perisainya di tangan kirinya. Tiba-tiba seorang penari wanita (o sisi) maju berteriak, dia --- he --- he --- he --- dan bergabung dengan penari laki-laki. Keberanian penari pria memikat wanita yang menunjukkan kelembutan dan keberaniannya. Tanpa memegang apa pun di tangannya, dia memutar telapak tangannya dengan indah seolah-olah dia melindungi sesuatu di tangannya. Suara tawa mengembang seperti yang dirasakan orang-orang.
Kembanggaan dan kegembiraan melihat pria yang kuat dan berani menghadapi wanita cantik. Saat mereka menari, para penonton perlahan-lahan jatuh kesurupan. Seorang penari pria, atau mantan Kepala Desa, melompat dari lingkaran dansa. Dia mencari seseorang. Dia berhenti di depan seorang pria seusianya, berumur keempat puluh tahun. Dia membungkuk kepada pria itu dan memberi pedangnya dan perisai. Pria di depannya dipilih untuk menggantikannya dalam tarian.
Suara-suara dan tepuk tangan meriah dari para penonton menyambut penari baru. Wanita yang sama masih menari. Dia mendekati penari baru, tertawa dan berteriak dia --- dia --- dia --- dia-- saat dia dengan penuh semangat mengundang pria itu ke irama tarian. Orang saling berteriak kata "tokanali!" Kata ini berarti, “Bersukacitalah seperti iblis!” Suara luar biasa dari musik itu tampaknya membangkitkan suatu misteri di dalam hati orang-orang yang hadir. Setiap tarian pada gilirannya sampai mereka meneruskan tarian kepada orang lain. Suara akrab terdengar dari salah satu penari pria yang sedang mencari seseorang untuk menggantikannya. “Nardi! Nardi! ”Itu adalah suara Om Din. Kemudian para penari mengejar Pak Nardi yang dikenal di desa itu sebagai teman Om Din.
Dengan anggukan hormat, Om Din membungkuk rendah dan dengan anggun mengayunkan pedang dan perisai ke Pak Nardi. Orang-orang berteriak dengan antusias. Pak Nardi menari dengan gaya, memegang pedang dan perisai berbeda dari para penari dari Ngidiho. Gaya tariannya mengingatkan saya pada tarian kuda kepang yang populer di Jawa. Sepertinya tidak ada yang peduli jika gayanya berbeda. Semua mata menatapnya. Penari wanita yang sama masih berteriak dan memutar telapak tangannya. Pak Nardi menari seolah-olah sedang menunggang kuda. Dia mengayunkan pedang dan melindungi dengan ritme dengan pukulan drum. Musik yang memekakkan telinga semakin kencang.
Pak Nardi berputar-putar, menyodorkan pedangnya. Kecepatan musik menjadi tinggi. Tiba-tiba kami dikejutkan ketika suara keras naik dari pusat arena yang memegang pertunjukan. Orang-orang berteriak. Musik berhenti tiba-tiba. Pak Nardi bergoyang dan jatuh. Dia pingsan, terbentang di jalan aspal dekat tenda lebar yang disiapkan untuk pesta pernikahan Emang dan Mala.
Mantan kepala desa dan wanita Ngidiho ini selalu dipilih untuk mewakili Galela untuk pertunjukan tarian Cakalele untuk menyambut pejabat pemerintah daerah yang datang dari luar Galela.
Orang-orang segera memanggil Om Din. Mereka semua tahu Om Din diperlukan pada saat kritis ini. Kemudian saya melihat Om Din mendekati tubuh Pak Nardi yang tidak sadar dan kaku yang matanya kosong, tidak melihat apa-apa. Suara Om Din menggema, saat ia mengucapkan kata "toka" (iblis), di telinga kiri Pak Nardi. Kemudian dia mengucapkan kata "bismillah rraham nirrahiim" di telinga kanan Pak Nardi.
Tapi satu menit kemudian, sepertinya tidak ada yang berubah. Beberapa lelaki kemudian membawa Kak Nardi keluar dari Sabua, yang dipersiapkan untuk perayaan pernikahan keesokan harinya. Mereka membaringkannya tak sadarkan diri di ruang tamu rumah Nurman Budiman, ayah Emang, pengantin pria dari pasangan pengantin yang baru. Sementara tidak sadarkan diri, Pak Nardi terkadang tampak ingin bangun, seolah sedang bertarung atau menyerang seseorang. Namun Om Din masih di sampingnya, memegang tangannya dan mengatakan kata-kata yang tidak bisa saya mengerti. Dia berdoa dengan secangkir air dan membuka mulut Pak Nardi untuk membantunya menelan sedikit. Di luar rumah, orang-orang bergosip bahwa Pak Nardi dirasuki setan karena ia bukan Galela asli (O Galela madutu). Namun orang-orang juga berpikir bahwa iblisnya tidak sekuat yang mereka miliki di Galela. Semua orang percaya bahwa Pak Nardi akan baik-baik saja karena mereka pikir dia harus memiliki kekuatan supernatural untuk melindungi dirinya sebagai orang asing, seorang imigran Jawa, di tanah Halmahera. Selama ini musik terus berdetak tanpa henti, berhenti hanya dengan singkat ketika Pak Nardi jatuh. Penari lain menari dan irama musik mengisi suasana semua yang hadir, Sangat Misteri.
Beberapa hari setelah pesta, saya bertanya kepada Om Din tentang apa yang terjadi pada malam sebelum pesta pernikahan. Om Din tertawa dan diam saja. "Itu bukan apa-apa" kata Om Din, tampaknya ingin menghindari subjek. “Ibu sudah pulang. Sekitar pukul 3 pagi, Pak Nardi kembali sadar dan saya membawanya pulang ke Tiabo dengan gerobak sapi saya. ”Om Din dengan cepat menggeser pembicaraan kami ke topik lain. Namun saya bertahan dan bertanya kepadanya apakah mereka sering mengadakan acara di mana seseorang pingsan saat menari Cakalele.
Om Din tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Tak pernah". Galela adalah orang-orang pemberani yang tahu cara menari tarian leluhur mereka. Kami menghormati leluhur kami dengan cara kami hidup. Nenek moyang kita adalah bajak laut dan ketika kita melakukan tarian ini, kita menghormati leluhur kita. ”Om Din menjelaskan dengan antusias.
“Seseorang yang menari Cakalele harus benar-benar mengerti bahwa tarian ini adalah tarian kemenangan. Selama beberapa generasi, kita telah mendengar kisah-kisah tentang bagaimana leluhur kita akan melakukan perjalanan laut yang panjang untuk membajak kapal (o tohiki). Sebelum berangkat mereka harus mengadakan pesta besar. Mereka menari dan minum minuman keras lokal (saguer, o daluku) untuk merangsang energi mereka dan membangkitkan semangat arwah leluhur (o dilike).
Ini adalah roh orang-orang yang sudah lama meninggal. ”OmDin menjelaskan bahwa bahkan sekarang orang-orang dari Ngidiho selalu dipilih untuk menampilkan tarian Cakalele untuk menyambut pejabat pemerintah penting yang mengunjungi Galela. Meskipun kita sudah memiliki agama (agama yang mengacu pada Islam), kita masih bangga dengan warisan ini.
Om Din melanjutkan untuk menjelaskan mengapa Pak Nardi dirasuki oleh roh jahat sedangkan para penari Ngidiho tidak. Dia mengatakan bahwa jika seseorang dari Galela rentan terhadap roh jahat (o toka) mereka akan tahu dalam diri mereka sendiri bahwa mereka tidak dapat menyentuh pedang dan perisai selama tari Cakalele. Itu tabu. Pertunjukan Cakalele memberi kehormatan kepada para leluhur. Karena itu jiwa para penari harus kosong dan tidak dipengaruhi oleh roh jahat. Hanya dengan begitu mereka dapat dirasuki oleh dengan o dilike, roh baik, roh leluhur. Ketika roh leluhur merasuki para penari, semua penonton dapat merasakan kehadiran roh kuno (leluhur) yang melindungi seluruh desa.
Roh jahat, o toka, tidak bisa bersatu dengan leluhur, o dilike. O toka bukan roh leluhur, melainkan roh perusak yang dapat menghancurkan kehidupan manusia. Namun arwah leluhur (Galela: o dilike; Tobelo: o dilikine) melindungi manusia. Dahulu kala, sebelum nenek moyang kita berangkat dalam perjalanan laut yang panjang, mereka memanggil o dilike untuk menemani mereka, kata Oom Din.
Pak Nardi menari pada jam 1 pagi setelah dia memimpin prosesi penyembelihan sapi untuk pesta hari berikutnya. Dalam tradisi Galela, seseorang yang menyembelih seekor sapi berhak membawa pulang kepalanya. Om Din memberi Pak Nardi tugas ini karena dia bisa membawa pulang kepala untuk dikonsumsi oleh keluarganya. Pria ini, yang tinggal bersama istri dan cucu lelakinya, hanya makan setiap hari. Saya tidak melihat bahwa Om Din berarti bahwa roh di dalam Pak Nardi adalah roh jahat. Namun, yang ia maksudkan adalah roh o dilike dari Galela berbeda dari roh lain. Setiap keluarga memiliki roh leluhurnya. Arwah leluhur muncul dalam bentuk klan sebagai realitas jaringan kerabat yang dimiliki Galela.
Bahkan sekarang, di dunia modern, jika seorang Galelan ingin melakukan perjalanan panjang, mereka selalu meminta perlindungan o dilike terlebih dahulu, Om Din melanjutkan untuk menjelaskan perbedaan antara roh leluhur dan roh jahat. “Galela hanya akan meminta bantuan dari arwah (o dilike) yang merupakan leluhur dari keluarga mereka sendiri. Mereka merasa bahwa hanya roh leluhur mereka sendiri yang akan benar-benar membantu mereka pada saat kritis terutama ketika mereka secara fisik terancam.
Om Din kemudian menceritakan sebuah kisah bahwa pemuda Galela yang menjadi tentara selalu dibantu oleh o dilike mereka sendiri ketika mereka berada dalam situasi berbahaya dan kehidupan mereka terancam. Arwah leluhur, o dilike, berbeda dari arwah desa, o wonge. O wonge adalah roh yang melindungi desa.
Menurut mitos lokal, setiap desa percaya bahwa hewan tertentu mewakili beberapa nenek moyang mereka yang dilarang untuk dibunuh (Ishige: 1980). Seri Ngidiho adalah buaya (o gosoma). Setiap desa memiliki o wonge khusus. Desa lain percaya bahwa seri burung mereka adalah elang (o kodoba) (Ishige: 1980-420).
Dengan menggunakan kategori yang dijelaskan oleh C. Levi-Strauss (Levi-Strauss: 1969) dan penulis lain, konsep o wonge dapat diklasifikasikan sebagai hewan totem. Berbeda dengan orang-orang Kristen, Muslim Ngidiho percaya bahwa o dilike adalah roh yang baik dan bukan iblis atau roh jahat. Kekristenan Protestan, sebagaimana diwarisi dari para misionaris Belanda, tidak percaya pada roh leluhur yang baik, tetapi hanya menerima kenyataan Setan (Iblis) dan roh jahat atau setan. Para misionaris mengajarkan bahwa orang yang hidup tidak dapat berkomunikasi dengan orang mati karena mereka sudah berubah dari dunia fisik menjadi dunia rohani. Ajaran ini memisahkan komunitas Kristen baru dari jaringan kerabat mereka. Merayakan leluhur adalah ritual kekeluargaan yang menciptakan solidaritas. Di antara bentuk-bentuk Injili Kristiani yang lebih banyak, dunia roh ditegaskan dan Allah diyakini menyelamatkan nenek moyang orang-orang yang menjadi orang Kristen.
Namun demikian, bahkan jika ada kepercayaan akan roh baik, para guru Kristen menekankan bahwa hanya Allah yang harus dirayakan dan disembah, bukan nenek moyang. Islam Ortodoks juga berfokus pada perayaan Tuhan dan melarang pemujaan arwah, tetapi pengajaran Al-Quran tentang jin mengakomodasi kepercayaan lokal pada arwah. Mengingat latar belakang ini mudah untuk melihat mengapa tarian Cakalele jarang dilakukan di pesta pernikahan Kristen Protestan di Galela. Sebagai pengganti, mereka lebih suka musik gaya modern seperti disko untuk kaum muda dan musik waltz untuk generasi yang lebih tua. Menari waltz masih berlanjut sebagai warisan dari para misionaris Belanda.
Cakalele adalah tarian asli yang diciptakan oleh Suku Galale. Tarian Denge yang dijelaskan dalam narasi pesta pernikahan juga asli, meskipun dipengaruhi oleh budaya Melayu yang diturunkan dari penyiar Islam. Terkadang orang-orang Muslim di Ngidiho mengeluh bahwa orang-orang Kristen bukanlah orang Galela yang asli karena mereka telah melupakan tradisi nenek moyang mereka. Kristen Katolik masih (dan masih), lebih toleran terhadap ritual keagamaan setempat yang melibatkan arwah. (Jouwersma: 1985).
Menurut orang Galela, setan, syaitan (Arab), iblis, (Galela: ibilisi) adalah roh jahat yang memakan manusia. Jin (jin) adalah roh baik yang hidup di dekat manusia. Dalam bahasa asli agama setempat, tidak ada kata untuk setan atau jin (jin). Namun gagasan tentang roh baik dan roh jahat sangat menonjol dalam agama setempat.
Dalam pertemuan antara ajaran-ajaran Muslim dan praktik-praktik lokal, konsep setan dan jin dari Al-Qur'an dengan mudah diasimilasi dengan konsep-konsep lokal. Sekarang orang-orang Galela membedakan antara berbagai jenis roh jahat dalam kategori o toka,O meki, o baja-bito dan o putiana semuanya adalah roh jahat atau iblis. Ada juga berbagai macam roh baik, termasuk o goma, o dilike, o wonge, gurumi ma dorou, moro dan honga, yang semuanya dianggap jin (bahasa Arab: jinn; Galela: jinni), karena mereka tidak mengancam manusia makhluk ( Ishige; 1989:429 ).
Pada abad akhir abad ke 19 dan permulaan abad ke 20 disetiap Doku (kampung) Di Galela memiliki seri yaitu kuil di kampung mereka masing-masing untuk Wonge yaitu penjagah. Jadi di Galela ada sepuluh seri ( Fraasen; 1979:6-7 ).
Cakalele atau O'soda merupakan tarian asli orang Galela semoga dengan adanya ulasan sejarah di atas tentang Cakalele Galela para Generasi Galela, sadar dan mampuh menjagah tradisi Leluhur (Topora) agar tidak hilang di telang jaman.
Narasi oleh: Muhammad Diadi

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cakalele Galela"

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Bijak.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel